[Twoshot] Again and Again (Part 1)

againandagain

Again and Again

story by roseblanche

Cheng Xiao (WJSN) & Jun (Seventeen)

slight!Drama, Romance, Hurt/Comfort

PG-13

Twoshot

“Yang sangat disayangkan hanyalah kenyataan tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi.”

-oOo-

Menjadi primadona sekolah mungkin adalah hal yang menyenangkan menurut kebayakan gadis. Dikagumi seisi sekolah, menjadi pusat perhatian, dan ditaksir banyak lelaki. Menyenangkan, bukankah begitu?

Dan aku ingin menekankan pada seluruh gadis yang berpikiran seperti itu–pemikiran mereka tidak seratus persen benar.

Seperti aku contohnya. Bukannya ingin sombong atau apa, namun aku termasuk salah satu primadona di sekolahku. Banyak dari mereka yang mengagumiku, karena aku adalah seorang model.

Ya, selain bersekolah aku juga bekerja sebagai model di salah satu perusahaan majalah fashion ternama yang cukup populer di kalangan para remaja.

Tidak jarang aku mendengar gadis-gadis itu yang berharap untuk menjadi model yang cukup terkenal sepertiku. Namun, ada beberapa hal yang belum mereka ketahui.

Mereka tidak berpikir betapa susahnya membagi jadwal untuk kepentingan sekolah dan kepentingan kerja. Lelah? Sangat. Namun, aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi.

Aku sudah tidak punya ayah dan ibu semenjak satu tahun yang lalu, dan yang tersisa hanyalah nenek dan adikku yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Uang yang ditinggalkan oleh ayah dan ibuku tidak cukup untuk membiayai pendidikan kami berdua sampai akhir, dan aku juga tidak mungkin menghabiskan uang tabungan nenekku, bukan? Karena itulah aku harus bekerja.

Dan satu lagi. Mereka pikir, menjadi gadis yang ditaksir banyak laki-laki itu menyenangkan? Jika mereka berpikir begitu, hanya ada satu kepastian. Mereka tidak paham dengan yang namanya cinta.

Tidak akan ada gunanya seribu orang lelaki menaruh hati mereka padaku, namun cinta yang kumiliki tidak terbalas.

Ya, tidak ada gunanya.

“Cheng Xiao?”

Nah, ini dia orangnya. Laki-laki yang menjadi teman pertamaku saat mulai memasuki kelas satu sekolah menengah akhir tahun lalu. Saat itu, aku tidak mempunyai teman di kelas. Kedua sahabatku–Chayoung dan Seungyeon, berada di kelas yang berbeda. Aku tidak mengenal siapa-siapa lagi selain mereka berdua.

Saat aku memasuki kelas, yang lainnya sudah memiliki kelompok mereka sendiri-sendiri. Entah karena penampilanku yang tidak menarik atau apa–karena saat itu aku hanyalah gadis berkepang dua dengan kacamata tebal–tidak ada satupun dari mereka yang mengajakku bicara.

Tidak ada. Kecuali dirinya.

Ia bukan laki-laki yang tenar di sekolah, ataupun laki-laki yang diidolakan para gadis. Ia hanyalah seorang ketua kelas berotak encer yang berambisi untuk menjadi koki nomor satu di Korea dan Cina karena hobi memasaknya.

Ialah yang pertama kali mengajakku bicara. Ialah yang selalu mengajariku soal-soal pelajaran yang tidak kumengerti. Ialah yang pernah melarikanku ke ruang kesehatan sekolah karena pingsan akibat kepalaku yang terkena lemparan bola basket saat pelajaran olahraga. Ia juga yang mengubah diriku hingga menjadi seperti ini.

‘Kau itu cantik. Kalau kecantikanmu ditutupi terus, sayang kan?’

Kata-kata itulah yang menjadi salah satu alasanku untuk memborong majalah-majalah fashion, berburu make up, belajar merias wajah, serta mati-matian olahraga agar memiliki bentuk tubuh ideal.

Alasan keduanya, sudah jelas, bukan?

Hei, gadis mana yang tidak ingin tampil cantik di depan laki-laki yang mereka sukai? Ada yang bilang, bahwa gadis baru ingin mulai menata dirinya apabila sudah merasakan yang namanya jatuh cinta. Aku mengakui perkataan itu ada benarnya.

Ya, aku jatuh cinta padanya.

Ia adalah orang yang spesial untukku. Baru saja dua hari yang lalu, aku menyatakan perasaanku padanya, namun coba tebak?

‘Maaf. Aku tidak bisa, jadi aku minta maaf. Tapi, terima kasih untuk perasaanmu itu.’

Setelah itu, ia meninggalkanku–yang tentunya masih membeku dengan sebuah luka menguar di hati. Air mataku tidak bisa berhenti seharian, sampai-sampai agensi modelku mengomel karena mataku bengkak saat menjelang pemotretan keesokan harinya.

Aku masih tidak tahu apa alasannya menolakku, sehingga aku mulai berpikir.

Mungkin, bagiku ia adalah sebuah berlian di tengah-tengah bebatuan, namun bukan berarti ia juga melihatku sebagai berlian. Bisa jadi aku hanyalah sebuah batu diantara sekian banyak batu lainnya.

Kurasa kini aku mulai sadar, dan menata kembali diriku. Aku harus bangkit jika tetap ingin hidup, karena aku harus bekerja juga. Aku mulai memutuskan untuk menyerah terhadap laki-laki itu dan menjalin hubungan dengannya hanya sebatas teman. Ya, kurasa itu sudah lebih dari cukup.

Ya! Cheng Xiao!”

Suara itu membuyarkan lamunanku. Dari tadi aku sedang berada di ruang kesehatan sendirian, akibat kepalaku yang tiba-tiba saja pusing dan perutku yang mual–hingga tiba-tiba saja laki-laki ini membuka tirai dan menatapku yang terbaring lemah di atas kasur ruang kesehatan.

Dan bodohnya, aku hanya menatapnya lama sambil melamun, hingga ia harus memanggilku untuk yang kedua kalinya.

“Kau sakit apa? Ku dengar dari Soonyoung, katanya kau tiba-tiba saja izin ke ruang kesehatan saat pelajaran biologi.”

Ia meletakkan tangan kanannya di dahiku, lalu setelah itu ia duduk di pinggiran ranjang tempatku terbaring.

Hei, bagaimana bisa?

Bagaimana bisa ia bersikap seakan tidak terjadi apa-apa diantara kami? Seharian ini, aku selalu menghindar darinya, dan beruntung keadaan juga sedang mendukungku.

Ia mengikuti rapat yang memang hanya dihadiri oleh setiap ketua kelas dan wakilnya–karena di tahun kedua ini ia juga sekelas denganku dan ia juga terpilih untuk menjadi ketua kelas lagi–untuk membahas pekan olahraga yang akan datang.

Aku menatapnya yang kini telah membawa tas sekolahnya dan… apakah itu tasku juga? Memangnya sekarang sudah jam berapa?

“Aku membawakan tasmu ke sini, karena ini sudah waktunya pulang. Maaf baru menjengukmu sekarang, seharian ini aku– ”

“Tidak apa-apa, Jun. Dan terima kasih sudah membawakan tasku.”

Ia tersenyum. Dan dengan satu senyuman itu saja, retaklah pertahanan yang baru saja kubangun. Dengan senyuman itu pula, hatiku sudah luluh kembali.

“Kau belum menjawabku tadi. Kau sakit apa? Pusing dan mual lagi?”

Aku mengangguk. “Tapi sekarang sudah tidak apa-apa, kok.”

Jun hanya menyunggingkan senyum sekilas. “Sudah kuduga. Ah, tunggu sebentar.” Tiba-tiba Jun merogoh-rogoh tasnya, dan kemudian mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi panjang.

“Ini.” Jun menyodorkannya padaku. “Tadi, aku mampir ke mini market setelah mendengar kabar kalau kau sakit. Kupikir ini bisa membuatmu merasa lebih baik. Ini cokelat favoritmu, kan?”

Kutatap benda yang sudah berpindah dari tangan Jun ke tanganku–sebatang coklat dengan potongan-potongan buah beri di dalamnya. Memang ini cokelat kesukaanku, tapi ada satu hal yang janggal.

Ia mampir ke mini market? Kapan?

Oh, jangan bilang…

“Kau menyusup keluar saat pelajaran demi membeli cokelat ini di mini market?”

Jun sempat terdiam, namun tiba-tiba saja ia nyengir lebar. Huh, dasar.

“Yah, karena kupikir cokelat ini bisa membuatmu merasa lebih baik, Xiao. Dulu, sebelum kau jadi model, kau suka sekali cokelat ini, kan? Tapi setelah jadi model, aku yakin kau belum pernah memakannya lagi. Iya atau tidak?”

Jun tersenyum sok imut, membuatku ingin tertawa geli melihatnya–meskipun pada akhirnya bisa kutahan. “Tahu dari mana?”

“Kau semakin kurus, kau tahu? Melihatmu makan nasi saja jarang, apalagi cokelat. Aku tahu kau itu model yang harus menjaga bentuk tubuh, tapi model juga butuh tenaga untuk bekerja, Xiao,” kata Jun sambil terkekeh. “Makanlah. Cokelat itu bisa menghilangkan stress, jadi kupikir bisa lumayan menghilangkan pusingmu juga. Dan kurasa potongan buah berinya bisa menghilangkan rasa mual.”

Aku menatap cokelat itu. Lalu aku menatap Jun. Setelah itu, aku kembali menatap cokelatnya lagi. Dan kini, cairan yang sudah berada di pelupuk mataku tak tertahankan lagi.

Kuakui, ia tidak paham. Penyebab pusing dan mualku bukan karena stress–namun itu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah hanya satu.

Kenapa?

Kenapa selalu dirinya? Diantara sekian banyaknya orang, kenapa harus selalu Jun? Kalau begini terus, apa yang harus kulakukan? Aku harus bagaimana, aku tidak tahu.

Ya! Kenapa menangis? Cheng Xiao? Kau baik-baik saja?”

Baik-baik saja? Oh, astaga.

“Tidak,” ujarku dengan suara yang mulai parau. “Aku tidak baik-baik saja. Bagaimana bisa, Jun?”

Rasa ingin tahuku sudah tidak tertahankan lagi. Mulutku serasa gatal apabila tidak menanyakannya.

“Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini setelah apa yang terjadi di antara kita terakhir? Bagaimana bisa?”

Jun terdiam mendengarnya. Setelah beberapa saat, tiba-tiba tatapannya berubah menjadi sedih.

“Maafkan aku,” ujarnya pelan. “Maaf, Cheng Xiao.”

Setelah itu, keheningan kembali menyelimuti kami. Aku mengusap air mataku, dan sesaat setelah aku lebih bisa menenangkan diri, aku bertanya kembali.

“Kalau boleh…”

“Ya?”

“Kalau boleh, aku ingin tahu alasannya. Dua hari yang lalu. Kenapa?”

Jun terlihat bingung sesaat, namun beberapa detik kemudian wajahnya menunjukkan bahwa ia mengerti.

“Kau… benar-benar ingin tahu?”

Karena aku mengangguk mantap, akhirnya ia melanjutkan.

“Sudah ada seseorang.”

Ini dia. Aku menarik nafas dalam-dalam, mempersiapkan hatiku untuk setiap kemungkinan yang keluar dari mulut Jun. Bagaimanapun juga, aku harus mengetahuinya.

“Siapa?”

“Nayeon-nuna, senior yang berada setingkat di atas kita. Kelas 3-1. Mantan ketua klub dance.”

Baiklah. Serius, ini sakit.

Kuakui memang sakit, tetapi aku sendiri yang memutuskan untuk ingin tahu. Jadi, inilah yang harus kutanggung. Aku harus menerimanya. Mau bagaimana lagi? Bukan salah Jun jika cintaku tak berbalas.

Aku mulai membuka bungkus cokelat yang diberikan Jun, lalu mulai menggigit batang cokelatnya. Sambil memakannya, sesekali air mataku juga turun–namun tiap kali itu terjadi, aku langsung cepat-cepat menghapusnya. Jun yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis, senyuman yang terlihat menyedihkan.

“Habiskanlah. Setelah itu, ayo kita pul–”

“Jun…”

“Iya?”

Aku menatap cokelatku yang sudah habis setengah, lalu menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Setelah itu, aku menatap ke arahnya, memasang sebuah senyuman di bibirku.

“Berhentilah menatapku dengan tatapan menyedihkan itu, bodoh.”

Matanya melebar dan aku tertawa pelan. Setelah tawaku mereda, aku kembali menatapnya–namun kali ini dengan tatapan yang lebih serius.

“Kalau memang tidak bisa, aku akan menyerah pada perasaanku. Aku ingin kau melupakan semua kata-kataku dua hari yang lalu jika mungkin. Jangan bersikap begini, kumohon.”

Sikap Jun memang terlihat berbeda, meskipun kebaikannya masih sama saja. Ia memperlakukanku seakan-akan aku adalah orang yang pantas untuk dikasihani, sungguh berbeda dari biasanya. Jujur, aku rindu sikapnya yang dulu, seperti sebelum kejadian dua hari yang lalu.

Baiklah, salahkan aku yang terlalu nekat untuk menyatakan perasaanku. Sampai akhirnya aku tersadar sendiri, ketukanku pada pintu hati Jun ternyata tidak berujung pada keterbukaan.

“Aku hanya ingin kita kembali berteman seperti dulu lagi,” ujarku pelan. “Apa itu mungkin?”

Jun terdiam sejenak, kemudian tanpa disangka-sangka ia menyunggingkan senyuman lembutnya.

“Kenapa tidak?”

Aku menghela nafas lega mendengar itu. Sejujurnya–yang soal menyerah pada perasaanku sendiri itu, aku belum cukup yakin. Tidak semudah itu melepaskannya. Namun, kurasa menjadi sekedar teman adalah pilihan yang terbaik untuk sekarang, eh?

Jadi, aku hanya akan membiarkan perasaan ini hilang dengan sendirinya, seiring dengan berjalannya waktu.

-oOo-

Nuna?”

Aku menoleh ke arah sumber suara, dan di sana kudapati sesosok anak laki-laki berumur sepuluh tahun yang tengah memakai jersey NBA yang mencetak nama tim favoritnya, Chicago Bulls. Aku tersenyum padanya.

“Main basket lagi?”

“Iya, pukul setengah lima nanti. Seokmin-hyung bilang ia akan mengajariku agar aku bisa jadi pemain basket yang keren seperti Dwyane Wade.” Anak itu menyengir lebar, membuat pipinya terlihat semakin bulat. Lucu sekali.

“Yang benar? Memangnya kau kuat latihan dengannya?” tanyaku menggodanya.

Hah, memang ada-ada saja tetangga satu itu.

Seokmin adalah tetangga sekaligus teman seangkatanku yang menjadi ketua tim basket di sekolah, yang jika sudah beberapa hari menjelang kompetisi akan berlatih terus-terusan sampai malam.

Setelah Cheng Qian–adik laki-lakiku berkenalan dengan Seokmin, anak itu langsung lengket padanya. Alasannya sederhana. Chicago Bulls juga adalah tim favorit Seokmin.

“Tentu saja! Nuna lihat saja kalau aku sudah besar nanti! Aku pasti tidak akan kalah dari Dwyane–”

“Iya, iya… Nuna percaya, kok.” Aku masih tertawa geli sambil mengepak barang-barang keperluanku dalam tas.

“Omong-omong, Nuna mau berangkat kerja?”

“Iya. Nenek sedang tidur, ya?”

Qian mengangguk. Aku melirik ke arah jam dinding–pukul empat lewat lima menit. Aku langsung menutup tasku cepat-cepat dan berlari-lari kecil ke rak sepatu. Sambil mengenakan sepatuku, aku berpesan pada Qian untuk titip salam pada nenekku, dan juga agar ia tidak lupa mengunci pintu saat ia pergi main nanti.

Setelah itu, aku berangkat ke tempat pemotretan.

-oOo-

Jalah raya cukup ramai, seperti biasanya. Kini aku sedang berdiri di pinggir jalan, menunggu lampu hijau bagi pejalan kaki bersama kerumunan orang-orang lainnya.

Oh, jujur saja aku tidak suka ini. Bau asap kendaraan seringkali membuatku pusing, ditambah lagi kepalaku sudah sakit sejak berangkat tadi. Aku harap aku tidak mual lagi setelah ini.

Tiba-tiba saja, sesuatu menangkap penglihatanku. Seseorang berjaket coklat sedang berdiri di seberang jalan, di tempat pemberhentian bus lebih tepatnya. Aku menyipitkan mataku untuk memastikan sosok yang sepertinya kukenali itu, saat tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Tidak jalan, Nona?”

Seorang wanita paruh baya menatapku sekilas dengan heran, kemudian ia langsung ikut menyebrangi jalan bersama pejalan kaki lainnya. Aku mengalihkan tatapanku pada lampu lalu lintas–yang ternyata sudah berubah menjadi hijau. Pusing ini benar-benar membuatku menjadi lamban dalam berpikir juga rupanya.

Aku mulai melangkahkan kakiku, namun rasa pusing sialan itu sepertinya lebih berkuasa. Tanpa kusadari langkahku berangsur-angsur menjadi pelan, dan entah pikiranku melayang kemana. Sampai tiba-tiba saja aku merasa ada yang memanggil namaku. Berulang-ulang.

Ya! Cheng Xiao!”

Akhirnya teriakan yang terakhir itu membuatku tersadar. Kudongakkan kepala, dan sudah tidak ada orang lain lagi selain aku di tengah-tengah penyebrangan.

Kulihat juga lampu lalu lintas bagi para pejalan kaki yang sudah berubah menjadi merah. Detik itu juga, aku mendengar suara klakson mobil yang membuatku langsung menoleh ke samping.

Dan segalanya tidak dapat kuhindari.

BRAK!

.

.

.

Semuanya terasa begitu cepat. Apa yang barusan tadi itu?

Tiba-tiba saja aku sudah tergeletak di tanah, dengan sekian banyak orang yang mengerumuniku. Aku berusaha memikirkan apa yang baru saja terjadi.

Tubuhku serasa mendapat hantaman keras dari sisi sebelah kanan, lalu aku juga mengingat kalau aku sempat melayang. Namun setelah itu, tubuhku terasa seperti terhempaskan ke sebuah benda yang suara pecahannya jelas sekali terdengar. Setelah itu–
Ah, aku baru mengerti sekarang.

Pantas saja tubuhku sakit semua. Aku juga bisa melihat cairan merah yang berada di dekat tempat aku terbaring tak berdaya dan juga mencium bau anyirnya. Ya ampun, ini benar-benar sakit.

“Cheng Xiao?!”

Kini ada suara yang kukenali yang memenuhi indra runguku. Tiba-tiba saja sudah ada seorang laki-laki yang berjongkok di dekatku, sambil memandangku dengan tatapan yang sama seperti orang yang baru bertemu dengan hantu.

“Tolong, cepat panggil 119!” ujarnya lagi.

“Saya sudah meneleponnya, namun saya tidak yakin. Jalan raya di sekitar sini sangat padat.” Kali ini suara seorang gadis yang tak kukenal.

Setelah itu aku menatap kembali laki-laki itu, dan pandanganku yang tadi sempat buram kini menjadi jelas. Beberapa detik kemudian, aku baru menyadarinya.

Dia lagi rupanya.

“Jun?”

Aku memanggilnya, namun sepertinya ia tidak mendengarku. Tapi memang suarakulah yang terlampau pelan. Jun hanya mengerang sambil memegangi kepalanya, lalu kini ia menatapku yang beruntungnya masih memiliki kesadaran.

“Cheng Xiao? Apa kau bisa mengenaliku?”

Kini ia menggenggam tangan kananku dan aku menatapnya balik. Aku berusaha tersenyum, namun yang terjadi malah sebaliknya. Mataku terasa berair, dan sepertinya air itu telah keluar dari tempatnya–karena pipiku yang sepertinya juga terluka tiba-tiba saja menjadi bertambah perih.

“Jun…”

Hanya berupa bisikan yang keluar, namun kali ini sepertinya ia bisa mendengarnya dengan jelas. Laki-laki itu mengernyitkan dahinya, menatapku dengan tatapan yang sama seperti waktu di ruang kesehatan itu lagi. Menyedihkan.

“Apakah tidak ada rumah sakit terdekat di sekitar sini?” tanya Jun pada gadis tadi.

“Yang terdekat jaraknya sekitar tiga ratus meter dari sini. Kau hanya perlu mengikuti jalan ini saja sampai ada perempatan, lalu belok kanan. Dari sana rumah sakitnya sudah terlihat, letaknya di sebelah sebuah department store.”

Jun buru-buru mengucapkan terima kasih banyak pada gadis itu. Aku bingung dengan apa yang akan dilakukannya. Gadis tadi sudah jelas-jelas bilang kalau jalannya padat, kan? Naik taksi juga tidak akan mungkin kalau begitu.

Beberapa detik kemudian, punggungku terasa lebih sakit lagi karena seperti ada yang menyentuhnya. Dapat jelas kulihat, ada sesuatu berwarna coklat– oh, ternyata jaket milik Jun. Entah sejak kapan, jaket itu sudah membungkus tubuhku, namun aroma Jun yang melekat setidaknya membuatku merasa lebih nyaman.

“Bertahanlah. Aku akan membawamu ke rumah sakit.”

Bagaimana caranya? Itulah satu pertanyaan yang terngiang-ngiang di pikiranku.

Sebelum aku sempat bertanya, tiba-tiba tubuhku terasa seperti terangkat. Ya, Jun mengangkatku dengan meletakkan satu tangannya di punggungku dan satu lagi di balik kedua lututku.

Kemudian dapat kurasakan goncangan–yang membuatku mengerti kalau ia sedang berlari. Satu-satunya yang dapat menjadi fokus pandangku saat itu hanyalah wajah tampan milik Jun yang terlihat jelas sedang menahan tangis.

“Kumohon… bertahanlah, Xiao,” ujarnya dengan nafas yang agak tidak teratur. “Apapun yang terjadi, aku pasti akan membawamu sampai ke rumah sakit itu. Jadi, kau harus bertahan. Ya?”

Suaranya terdengar memburu, dan itu membuatku semakin ingin menumpahkan semuanya saja.

Kalau diingat-ingat, memang selalu Jun dari dulu. Entah dimanapun dan kapanpun itu, ia selalu ada untuk mengulurkan tangannya padaku. Ialah yang selalu menjadi malaikat pelindungku. Membuatku merasa seperti orang yang sangat berharga dan spesial untuknya.

Yang sangat disayangkan hanyalah kenyataan tidak selalu berjalan sesuai dengan ekspektasi.

Sudah kubilang, kan? It’s always been him. That’s why I always fall for him over and over again.

Kini, aku tahu satu hal.

Tak peduli apapun yang kulakukan, perasaan ini tetap saja tidak bisa berhenti. Sebuah perasaan tak tertahankan, membuatku tak bisa mengelak. Dan sekarang, aku tidak akan ragu lagi terhadap perasaanku.

Saranghanda, Jun…

.

.

.

Lalu, tiba-tiba semuanya berubah menjadi gelap.

tbc.

-oOo-

Advertisements

10 responses to “[Twoshot] Again and Again (Part 1)

  1. Huaaa T ^ T aku sampai nangis X””D nyesek pas bagian “Diantara sekian banyaknya orang, kenapa harus selalu Jun?” sama “Kalau diingat-ingat, memang selalu Jun dari dulu.”
    Nyesek banget…

    Like

  2. Pingback: [Twoshot] Again and Again (Part 2) – WJSN Fanfiction Indonesia·

  3. “It’s always been him. That’s why I always fall for him over and over again”
    Suka banget sama kata2nya 💕
    Sumpah ini nyesek banget :”) feelnya dapet, alur ceritanya oke, bahasanya mudah di mengerti pokoknya 2 jempol buat ff kamu ^^

    Liked by 1 person

Spacer, leave a reply pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s