[Oneshot] I’ll Be There

09bf6f3b-4c3b-45f0-af5d-f08cceaa7ce4

I’ll be There

story by roseblanche

Jun (Seventeen), Cheng Xiao (WJSN) & Others

School-life, Fluff, slight!Comedy

G

Oneshot

“I don’t care if I’m sleeping, if I’m having my own problems or if I’m angry with you. If you need me, I’ll be there for you.”
-Unknown-

“Kau kenapa?”

“Tidak. Tidak apa-apa.”

Uh, apanya yang tidak apa-apa? Jelas sekali sikapnya sangat berbeda hari ini. Sejak tadi pagi, ia terus diam tanpa suara. Aku tidak tahu perkiraanku ini benar atau tidak, tetapi … masa ia marah soal aku tidak membalas teks pesannya tadi malam?

Jun yang biasanya tidak akan kekanakan seperti itu.

“Jun ….”

Posisiku berubah menjadi duduk tepat di samping Jun, lalu menusuk-nusuk pipi kirinya dengan jari telunjuk. Biasanya, aku memang akan melakukan hal itu jika Jun sedang merajuk atau apa, dan entah bagaimana cara itu selalu manjur. Ia tidak bisa mengabaikanku lagi setelah itu. Tapi, kenapa kali ini berbeda?

Ia hanya tersenyum sekilas sambil menarik kepalanya ke kanan, menjauhkan pipinya—dan setelah itu ia langsung beranjak meninggalkan kelas. Bahkan ia tak membalas tatapanku sama sekali.

Hei, ada apa dengannya? Marah denganku? Ada masalah pribadi? Astaga, aku benar-benar tidak tahu.

Hanya saja, aneh rasanya bila melihat Jun seperti ini. Melihatnya bersedih membuatku merasakan hal yang serupa. Ditambah lagi, aku tidak tahu apa-apa meskipun status kami sudah berubah menjadi sepasang kekasih.

Baru kusadari, ternyata selama ini hanya Jun yang memahamiku. Sedangkan aku?

Ternyata aku tidak tahu apa-apa tentangnya.

-oOo-

Pikiranku kacau. Sungguh.

Pasti ada sesuatu dengan Jun. Tapi apa?

Belum kutemukan jawabannya, bel sekolah sudah berbunyi, menandakan waktunya pulang. Seharian ini bahkan aku belum sempat mengobrol dengannya—well, yang kudengar dari mulutnya hari ini hanyalah elakan tadi itu saja.

Tiba-tiba, sebuah teks pesan masuk. Dari bibi tetangga sebelah rupanya.

Mataku terfokus pada layar ponsel, meskipun aku sama sekali tidak mempunyai niatan untuk membukanya. Tapi, pada akhirnya kubuka juga.

Dan isi teks pesan itu … aku berharap aku tidak pernah menerimanya. Sungguh.

Kubaca dua kalimat yang tertera berulang-ulang, berharap bahwa indera penglihatan ini bermasalah. Tetapi, nyatanya tidak. Jantung ini berdegup tak karuan, sebagai akibat dari rasa panik dan takut yang bercampur menjadi satu.

Entah kenapa seketika tubuh ini terasa lemas, dan hampir saja membuatku menjatuhkan ponselku—jika saja Jun tidak segera menangkapnya.

“Kenapa?”

Oh, bagus. Jadi aku harus terlihat seperti ini dulu baru ia mengawatirkanku? Bagus sekali.

Tapi, itu tidak penting sekarang. Aku tahu wajahku pucat layaknya orang yang baru saja bertemu dengan hantu, sampai-sampai Jun yang sedari tadi hanya diam akhirnya membuka suara juga.

Dengan wajah masih kebingungan, Jun menatap ponselku yang digenggamnya, dan seketika raut wajahnya berubah.

Ya, jelas saja.

‘Cheng Xiao, cepatlah pulang. Nenekmu tadi terjatuh dari tangga dan sekarang harus menjalani operasi.’

Dua kalimat yang bisa membuatku merasa runtuh begitu saja. Rasanya seperti kehilangan semua pikiran, dan bahkan aku tidak bisa menentukan apa yang harus kuperbuat. Mulutku terasa kelu, dan bahkan aku tidak bisa bergerak.

Bagaimana ini?

“Xiao?”

Seperti baru saja dibangunkan, jantungku terlonjak mendengar panggilan itu meskipun suaranya tidak terlalu keras. Aku beralih menatapnya yang balas menatapku.

“Ayo, kuantar ke rumah sakit.”

-oOo-

Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah menunggu.

Ya, duduk dan menunggu sebuah hasil yang tidak pasti akan membuatku merasa lega atau justru sebaliknya—di lorong yang penuh dengan bau obat ini. Benar-benar memuakkan.

Jujur, aku takut. Aku begitu takut sampai-sampai aku merasa mual. Kepalaku juga pusing, dan seketika aku teringat dengan penyakit anorexia yang pernah kuidap dulu. Rasanya agak mirip.

Jun masih tidak banyak bicara, dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kalau suasana hatinya berubah. Dan aku, hanya bisa menggenggam erat tangannya sebagai pelampiasan rasa takutku. Untung saja ia membiarkannya.

Sudah cukup lama kami berdua menunggu di lorong ini. Bibi Hwang—tetanggaku tadi—sedang menemani adikku membeli makan di lantai dasar.

Dua jam lebih sudah terlewat, hanya saja kenapa pintu operasi itu belum juga terbuka?

Sepengetahuan bibi Hwang, ada masalah dengan tulang nenek. Patah atau bergeser, ia sendiri juga tidak yakin. Pendarahan nenek juga parah, katanya. Aku tahu tidak seharusnya aku mempunyai pemikiran seperti ini, hanya saja … pikiran-pikiran negatif itu terus-terusan datang menghantui.

Bagaimana jika operasinya tidak berjalan lancar? Bagaimana kalau kondisinya sudah terlalu parah sehingga tidak ada harapan lagi? Bagaimana kalau operasinya gagal? Dan … bagaimana jika nenek harus pergi untuk selamanya?

Jujur, aku tidak siap. Dan aku tidak akan pernah siap, kurasa.

Memikirkan semua kemungkinan itu membuat seluruh air mata ini ingin tumpah saja. Aku tahu ini bukan saat yang tepat untuk menangis, ditambah lagi dengan suasana hati Jun yang sepertinya juga sedang tidak baik.

Aku tahu, seharusnya saat ini aku berdoa dan berharap agar operasi nenek berhasil. Aku tahu, seharusnya aku mengharapkan yang terbaik untuk nenek dan bukannya memikirkan semua kemungkinan negatif.

Hanya saja, mengapa semua ini terasa begitu sulit?

Dan pada akhirnya, cairan bening itu tumpah juga. Perlahan-lahan air mata itu mulai keluar, lalu membuat jejak yang turun sampai ke dagu. Dan proses itu berulang terus, sampai pada akhrinya aku bisa mendengar suara isakanku sendiri.

Aku tidak ingin mengangis, tapi aku tidak bisa. Berada dalam situasi seperti ini rasanya terlalu menakutkan.

Tak kusangka-sangka, tiba-tiba Jun menarik tanganku yang sedari tadi menggenggamnya, dan sedetik kemudian dapat kurasakan dekapan tubuhnya yang begitu hangat. Dekapan yang selalu bisa membuatku merasa lebih nyaman.

Perlahan, jemarinya mulai terasa di rambutku. Ia tahu bahwa sentuhan kecil berupa usapan seperti itu bisa membuatku merasa lebih baik.

“Kumohon, jangan menangis, Xiao.”

I’ve tried to, Jun. Tetapi, sulit—”

“Yang perlu kau lakukan hanyalah percaya.”

Jun menghembuskan nafas pelan dan melepaskan dekapannya, sebelum tersenyum dan melanjutkan,

“Aku tahu di pikiranmu hanya ada kemungkinan negatif, Xiao. Sejak dulu kau memang sering seperti itu, aku tahu.”

Ya, ia memang tahu. Seperti soal diriku yang takut setengah mati tersaingi oleh model baru itu, hingga aku berusaha untuk lebih kurus sampai-sampai terkena anorexia.

Menyebalkan.

“Tapi, setidaknya mulailah belajar untuk mengubah cara berpikirmu. Itu penting, Xiao.”

“Cara berpikir?”

“Kau tahu, selalu ada kemungkinan baik dan buruk dalam segala hal. Misalnya saja, seperti sekarang. Kau ketakutan karena bibi tetanggamu tadi mengatakan soal cedera yang dialami nenekmu. Ia bilang cederanya parah, dan hal itu yang membuatmu terus-terusan berpikiran negatif, kan? Lalu, bagaimana dengan kemungkinan positifnya?”

Aku menatapnya dalam bingung, masih tidak paham dengan apa yang diucapkannya.

“Daripada memikirkan kemungkinan bahwa operasinya gagal karena cederanya terlalu parah atau apa, kenapa kau tidak berpikir soal kemungkinan operasinya berhasil? Kemungkinan bahwa nenekmu akan sembuh dan bisa beraktivitas normal kembali? Masih ada kemungkinannya juga, kan? Dan bukankah berpikir seperti itu jauh lebih baik?”

Ia mengusap bekas jejak air mataku dengan sebelah tangannya, lalu tersenyum. Senyum pertamanya yang kulihat hari ini.

“Jadi, seperti yang kukatakan tadi—yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah percaya. Dan semuanya akan baik-baik saja, aku berjanji,” ujarnya lagi. “Lagipula, bukankah nenekmu itu adalah orang yang kuat? Aku yakin ia mampu mengatasinya.”

Mau tidak mau, akhirnya aku termakan juga oleh perkataannya. Aku tidak tahu sejak kapan ia bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu, namun yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengangguk dan memercayai kata-katanya.

Aku hanya perlu percaya, dan semuanya akan baik-baik saja.

Aku kembali melingkarkan kedua lenganku pada Jun, memeluknya erat-erat sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Yang dilakukannya hanyalah mengangguk sekilas, kemudian melanjutkan,

“Aku tidak ingin kau berpikiran negatif terus, Xiao. Karena biasanya pikiran negatif akan membawa dampak yang negatif juga. Seperti waktu model itu—”

“Ya, ya, aku tahu. Jangan dibahas lagi.”

Ia tertawa kecil. “Ya, karena aku tidak mau kau merasakan sakitnya kehilangan seseorang yang kau cintai. Sama seperti aku yang telah kehilangannya.”

Aku yakin kedua alisku sudah berkerut sekarang, karena aku tidak mengerti apa yang dimaksud Jun.

Belum sempat aku bertanya, tiba-tiba pintu ruang operasi terbuka, dan dari sana seseorang yang tampak kelelahan dengan peluh di dahinya melangkah mendekat ke arah kami.

“Beruntung sekali, operasinya berhasil.”

-oOo-

Sejak dokter tadi memberitahu kami kabar baik itu, Jun masih belum bicara apa-apa lagi. Kami memang belum diperkenankan melihat keadaan nenek, namun setidaknya aku bisa bernafas lega sekarang.

Mataku terfokus pada Jun, yang sekarang sedang menopang tubuhnya dengan kedua siku pada tembok pembatas di atap gedung rumah sakit. Pandangannya menatap kosong ke depan, menandakan bahwa memang belum terjadi perubahan pada suasana hatinya.

Tapi, ada satu hal yang kukagumi dari Jun.

“Jun?”

Ia tidak menoleh sama sekali, jadi terpaksa aku mendekat, berdiri tepat di sampingnya sambil ikut menyandar pada tembok pembatas itu.

“Aku tahu kau sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Apa masalahmu, aku masih tidak tahu. Tapi …, terima kasih.”

Kali ini, kepalanya menoleh dan kedua maniknya menatapku dalam bingung. “Hm?”

“Terima kasih, karena kau selalu ada untukku.”

Sejenak ia masih terdiam, namun pada akhirnya ia tersenyum sekilas. Kemudian, tatapannya kembali tertuju pada pemandangan kota yang bermandikan matahari senja.

“Sama-sama.”

Ya, laki-laki ini—selalu saja begitu. Selalu mementingkan orang lain ketimbang dirinya sendiri. Tak peduli apa yang sedang dialaminya, baik atau buruk, ia akan selalu ada kapan pun itu. Salah satu kepribadiannya yang sanggup membuatku jatuh cinta berapa kali pun itu.

Karena ia adalah Jun—orang yang telah mengulurkan tangannya kepadaku berkali-kali dari segala macam situasi layaknya seorang malaikat.

No wonder why I’ve fallen for him this much.

fin.

-oOo-
EPILOG
-oOo-

“Omong-omong … apa maksud perkataanmu tadi?”

“Perkataan yang mana?”

“Kau tidak mau aku merasakan sakit sepertimu yang telah kehilangannya …”

Jun mengangkat kedua alisnya, dan raut wajahnya menunjukkan bahwa ia mengerti maksud ucapanku.

“Ya, dia pergi untuk selama-selamanya.”

Suaranya mulai terdengar tercekat, dan entah kenapa aku menjadi panik. Terlebih lagi saat air matanya mulai menetes.

Dan pada akhirnya, yang bisa kulakukan hanyalah menatapnya sambil menghapus air matanya. Namun, melihatnya seperti ini agaknya membuat cairan mataku ingin keluar lagi.

“Ju—Jun? Apa ini yang membuat sikapmu seharian ini—”

Jun mengangguk, dan kini aku merasa tidak enak. Karena seingatku tadi, aku hanya berusaha mengajaknya bercanda agar ia tertawa lagi, padahal aku tidak tahu apa yang sedang dialaminya. Aku tidak tahu kalau masalahnya bisa seserius ini.

“Maaf, aku tidak tahu ….”

Aku kembali mendekapnya dan menepuk-nepuk pelan punggungnya agar ia merasa lebih baik. Ia hanya menggeleng, menandakan bahwa ia tidak apa-apa.

Dan rasa penasaran itu tiba-tiba menyeruak begitu saja.

“Memangnya, siapa yang meninggal? Keluarga? Teman dekat? Atau—”

“Jeanne.”

Aku langsung melepas pelukanku, dan menatapnya dengan pandangan yang entah terlihat seperti apa. “Jeanne?”

“Ya. Berhari-hari yang lalu, ia memang sakit. Aku menyangka penyakitnya tidak terlalu parah, tapi … tapi nyatanya … tadi pagi, ia sudah tiada, Xiao. Ia—”

Sebelum Jun sempat melanjutkan, aku langsung saja berbalik dan meninggalkannya yang masih berdiri terpaku di tempat yang sama.

Ya, Xiao! Mau ke mana?”

Aku tidak mau menjawabnya, dan yang kulakukan hanyalah terus melangkah dan melangkah. Seharian ini, ternyata aku mengawatirkan seseorang yang terlihat seperti tertekan beban berat, padahal kenyataannya hanya karena kehilangan Jeanne-nya itu—padahal ia masih punya sembilan atau sepuluh lagi yang sejenis, omong-omong.

Yang benar saja.

Oh, dasar ikan mas sialan!

-oOo-


JunXiao again yeyy♥♥♥
Mind to review? Thank you^^

-rachel

Advertisements

One response to “[Oneshot] I’ll Be There

Spacer, leave a reply pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s