[CHAPTERED] I Will Reach You – PAGE.3

i-will-reach-you

Aku akan berhenti kalau kau sudah berkencan dengan seseorang.”

~ I Will Reach You ~

by: Sonnenblume21

WJSN Bona, MONSTA X Hyungwon

Romance, School Life

General

Chaptered fiction

Page.1 | Page.2

***

Mungkin bagi penggemar Hyungwon yang lain, ia hanyalah sebatas lelaki tampan berpostur model yang kebetulan satu sekolah dengan mereka. Namun bagi gadis bernama Kim Bona, Hyungwon lebih dari sekedar itu. Chae Hyungwon adalah dunianya. Motivasi terbesar dalam hidupnya. Memangnya apa lagi yang membuat gadis itu belajar mati-matian supaya dapat memasuki SMA kini tempatnya belajar? Tidak hanya itu, tetapi Bona juga mampu mempertahankan rankingnya di kelas, belajar memasak, bahkan bergabung dengan ekskul tenis hanya karena lapangannya bersebelahan dengan lapangan sepak bola. Itu semua dilakukannya untuk menarik perhatian Hyungwon. Yah, meskipun lelaki itu masih saja acuh tak acuh terhadapnya.

“Yah, Kim Bona! Apa kau bermain baseball?!” teriak Exy kesal saat Bona men-serve bola tenis jauh ke luar lapangan dan tepat mengenai bahu sebelah kanan Hyungwon yang sedang memonitor teman-temannya di lapangan sepak bola.

Bona nyengir. “Sawrry! Aku akan mengambil bolanya.”

Bona berlari kecil menuju lapangan sepak bola. Yah, kalau bisa dibilang, sih, dia memang sengaja melakukannya, jadi dia bisa mempunyai alasan untuk berbicara dengan Hyungwon.

“Hyungwon-oppa! Maafkan aku, aku rasa aku memukul bolanya terlalu keras. Apa kau tidak apa-apa?”

“Jangan bilang kau sengaja melakukannya hanya untuk melihatku.” Tebak Hyungwon. Ia menyerahkan bola tenis yang dipegangnya seraya memegangi bahu kanannya yang sakit terkena bola tenis.

Bona mengambil bola tenis dari tangan Hyungwon. “Hm.. sepertinya ini lebih pantas disebut.. love gravity?” Ia memamerkan senyuman termanis yang pernah dimilikinya.

“Yah, aku rasa gravitasinya ada di bahu kananku.” Sahut Hyungwon, sarkas.

Bona hanya nyengir sebelum mengucapkan terimakasih dan kembali ke lapangan tenis. Sekilas, ia melihat segerombolan gadis melintas di pinggir lapangan. Di tengah-tengah gerombolan itu, ia menangkap sesosok gadis berambut hitam panjang sedang tertawa.

Cantik sekali, batin Bona.

“Hello, Kim Bona? Sampai kapan kau akan berdiri di sana?” seru Exy.

Bona segera tersadar dari lamunannya dan cepat-cepat men-serve bola. Lagi-lagi bola yang ia pukul melambung tinggi keluar lapangan.

“Bagus, Bona. Aku rasa kau memang harus mencoba baseball.” Dasom, Ketua Ekskul Tenis Perempuan, tiba-tiba muncul dan berdiri di belakang Bona.

Exy tertawa-tawa sementara Bona memajukan bibirnya kesal. Pada akhirnya, Bona dihukum lari keliling lapangan karena bermain awut-awutan. Tidak buruk, karena dengan begitu, ia bisa memiliki kesempatan untuk melihat Hyungwon dari dekat.

Bona berlari mengelilingi lapangan dengan mata tertuju pada Hyungwon yang berada di tengah lapangan. langkahnya terhenti saat sepasang netra Hyungwon bertemu miliknya. Refleks, Bona tersenyum lebar dan melambaikan tangannya pada lelaki yang sedang dalam posisi akan menendang bolanya.

“Yah, lanjutkan larimu.” Ujar Hyungwon.

Bona mengangguk dengan senang dan melanjutkan larinya.

Terkadang Bona tidak peduli dengan fakta bahwa Hyungwon mengacuhkannya. Melihatnya dari jauh seperti ini sudah cukup. Bahkan Hyungwon masih mau berbicara padanya sudah lebih-lebih-lebih dari cukup bagi Bona. Ia sempat berpikir, tidak apa-apa jika Hyungwon tidak bisa membalas perasaannya, Bona hanya ingin menunjukkan bahwa perasaannya tidak sedangkal yang Hyungwon duga.

***

Bona menyeka keringat di kening dengan telapak tangannya. Ibu Guru Shin benar-benar dengan kejam dengan hukumannya kali ini. Gadis itu dihukum untuk membersihkan kaca jendela koridor lantai tiga, mulai dari kelas 3-1 di ujung hingga ke ujung selanjutnya, kelas 3-10. Tadinya sih dia senang-senang saja, barangkali ia bisa bertemu Hyungwon. Tetapi ternyata lelaki itu sedang berada di tempat lain.

Exy sudah pergi sejak beberapa puluh menit yang lalu karena Changkyun terus saja merengek menagih janji Exy untuk menemani dia membelikan kakaknya kado ulangtahun.

Bona mendesis seraya mengelap jendela terakhir di hadapannya. “Aish, harusnya Hyungwon-oppa menemaniku melakukan semua hukuman ini. Bukankah aku dihukum karena dia?” Bona berbicara pada dirinya sendiri.

“Benar, ini semua salah Hyungwon-oppa.”

“Memangnya apa yang sudah dilakukan Hyungwon pada seorang Bona?” sebuah suara bariton menyapa Bona, membuat gadis itu menoleh mencari sumber suara.

“Oh, Wonho-sunbae.”

Shin Wonho, Ketua OSIS dan teman sekelas Hyungwon yang sifatnya berbanding terbalik dengan Hyungwon. Kalau Hyungwon kelewat cuek dan acuh, maka Wonho adalah pemuda yang ramah dan hangat.

Bona menghentikan aktivitasnya, kemudian menarik kedua sudut bibirnya untuk tertawa kecil.

“Tidak, aku sedang berpikir, bukankah lebih baik jika Hyungwon-oppa menemaniku mengerjakan hukuman ini? Karena kurasa aku akan lebih semangat menyelesaikannya.”

Wonho tertawa. “Kau benar-benar menyukai Hyungwon ya?” Pertanyaan yang kemudian hanya dijawab Bona dengan anggukan malu-malu.

“Aku menaruh simpati padamu, Bona. Kau benar-benar wanita tangguh. Kau tidak menyerah meskipun Hyungwon meresponmu dengan dingin. Padahal kau sudah menyukainya sejak lama, benar, ‘kan?”

“Ah, tidak apa-apa, Sunbae. Lagipula aku bukanlah orang yang pantang menyerah. Empat tahun ini bukanlah apa-apa untukku.” Bona tersenyum, memamerkan barisan gigi putihnya.

“Wow, sudah empat tahun?!” Wonho nampak terkejut.

“Iya—” Bona melirik arloji di tangannya. “Ah, aku harus pergi, Sunbae. Guru Shin bilang aku harus menyelesaikan hukumanku pada pukul tiga.” Bona bergegas menyelesaikan hukuman dan membereskan peralatan yang ia bawa.

“Aku pergi dulu, Sunbae. Sampai jumpa!” Bona membungkukkan badannya seraya berlalu dari hadapan Wonho dengan ember dan lap di kedua tangannya.

Wonho tersenyum geli melihat pemandangan di hadapannya.

Sama seperti yang lainnya, pemuda bermarga Shin itu juga bertanya-tanya bagaimana Hyungwon bisa mengabaikan gadis selucu Bona. Kalau ia jadi Hyungwon, ia pasti tidak akan melepaskan gadis itu.

Tapi tidak ada yang tahu alasannya. Kecuali Hyungwon sendiri.

***

“Hyungwon-oppa!” Bona berlari ke arah Hyungwon yang sedang duduk di taman belakang sekolah.

“Aku tadi mencarimu di ruang ekskul sepakbola, tapi Shownu-sunbae bilang kau sedang ada di sini, jadi aku memutuskan untuk kemari.” Bona terkekeh.

Belum sempat Hyungwon menjawab, Bona terus saja mengoceh. “Wah, kau sedang menyelesaikan lukisan yang akan kau kirimkan ke kompetisi nasional, ya?” tanyanya.

Hyungwon hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan Bona.

Oppa, kau benar-benar hebat. Selain jago sepakbola, kau juga pandai melukis. Aku yakin pasti lukisanmu ini bisa memenangkan juara satu.”

“Benarkah?” Hyungwon mengangkat kedua alisnya, akhirnya ia menolehkan kepalanya ke arah Bona.

Bona mengangguk dengan percaya diri, memamerkan senyum terindahnya.

“Tapi, ngomong-ngomong.. ini gambar apa?” Bona mendekatkan wajahnya ke lukisan Hyungwon.

Hyungwon berdecak kecil. Bagaimana bisa gadis ini bilang ia akan memenangkan kompetisi jika ia sendiri tidak mengerti gambaran Hyungwon?

“Kau tidak pulang?” alih-alih menjawab Bona, Hyungwon bertanya balik. Matanya melirik tas yang tersampir di pundak gadis itu, pertanda ia  sudah siap pulang.

Bona menggeleng kuat. “Tidak, aku ingin menemanimu menyelesaikan lukisanmu.” Katanya antusias.

“Tapi aku sudah selesai..” Hyungwon menegakkan badannya dan membereskan cat beserta kuas yang berserakan di mana-mana.

“Apa? Kau sudah selesai? Cepat sekali.. Bahkan lukisanmu belum selesai!” Bona merajuk, menunjuk lukisan Hyungwon yang masih setengah jadi.

“Aku sudah dua jam di sini dan sekarang aku lapar.”

“Apa kita akan makan tteokbokki?” Bona membulatkan matanya.

Belum sempat mendengar jawaban Hyungwon, lagi-lagi perhatian Bona tersita oleh gadis-gadis yang melintas tak jauh dari sana. Oh, itu kan gadis cantik yang ia lihat tadi!

Oppa, siapa gadis itu?” Tunjuk Bona pada gerombolan gadis yang berada di balik punggung Hyungwon.

Hyungwon menoleh, mengikuti pandangan Bona. Seolah mengerti gadis yang dimaksud Bona, Hyungwon membuka suara. “Ah, itu murid pindahan dari Jepang. Namanya Kim Seola. Dia berada di kelasku.”

“Cantik ya.”

“Iya, cantik.”

Bona menatap Hyungwon yang masih tak berpaling dari pandangannya. Ia merunduk dan mensejajarkan wajahnya dengan Hyungwon. “Jadi Oppa juga berpikiran sama denganku ya?”

Kaget, Hyungwon menoleh. “Memang dia cantik, apalagi?” Hyungwon berdiri dan membereskan kanvasnya.

Oppa, kau tidak tertarik padanya kan?” Bona kembali melirik gadis bernama Kim Seola itu.

Hyungwon mendesah dan kembali menoleh demi melihat wajah Seola. “Akan jadi tidak normal kalau aku tidak tertarik padanya.”

Bona memiringkan kepalanya tidak mengerti. Apa maksudnya itu?

Hyungwon menghela nafas dan menatap Bona dengan wajah serius. “Seriously, Kim Bona, aren’t you tired of chasing after me?”

Karena sejujurnya Hyungwon lelah. Sangat lelah.

Bona menggeleng kuat. Atmosfir di sekitar mereka berubah, waktu seolah melambat dengan hanya menyisakan detak jantung yang berdegup tidak beraturan.

Have anyone ever told you that you’re unbelievable annoying?”

“Well, aku sering mendengarnya. Tapi aku bilang bahwa mereka tidak lucu dengan mengatakan hal itu padaku.”

Hyungwon tampak berpikir keras. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia bersuara.

“Apa yang akan kukatakan adalah demi kebaikanmu sendiri, Bona.” Katanya, dengan tatapan yang tak lepas dari gadis mungil itu. Ditatap seperti itu untuk pertama kalinya, alih-alih takut, pipi Bona justru bersemu merah.

“Aku rasa kau harus menyerah. Kau harus berhenti sebelum kau terluka.”

Kali ini, Bona yang menghela nafas. Ini bukanlah pertama kalinya Hyungwon menyuruhnya untuk berhenti, tapi untuk yang pertama kalinya Hyungwon mengatakan dengan wajah yang amat serius.

Maka, Bona mengambil keputusan besar.

Oppa, apa kau sedang berkencan dengan seseorang?”

Hyungwon nampak terkejut, namun kemudian menggeleng.

“Apa kau sedang menyukai seseorang dan berniat mengencaninya dalam waktu dekat?”

Hyungwon lagi-lagi menggeleng.

Bona mengangguk-anggukkan kepalanya. “Bagaimana kalau kita bertaruh? Aku akan berhenti kalau kau sudah berkencan dengan seseorang.”

Belum hilang keterkejutan Hyungwon, Bona meneruskan, “tapi jika sampai kelulusanmu kau belum juga berkencan dengan seseorang, maka itu artinya kau kalah dan kau harus berkencan denganku.”

“Apa kau sudah gila? Bagaimana mungkin..”

“Kenapa? Apa kau takut?” Ekspresi Bona berubah. Wajah yang tadinya serius kini nampak tersenyum jahil ke arah Hyungwon. “Karena selama kurun waktu sampai hari kelulusanmu, aku akan membuatmu jatuh cinta kepadaku!” Bona berkata riang.

“Dan ingat, gadis yang kau kencani harus benar-benar gadis yang kau sukai. Tidak boleh hanya sebagai tameng untuk menghindariku, mengerti?”

Hyungwon mengusap wajahnya. Ia benar-benar tidak paham dengan cara berpikir gadis yang berdiri di hadapannya ini. Bagaimana mungkin ia mengucapkan hal semudah itu?

“Bagaimana? Setuju tidak? Apa kau takut jatuh cinta kepadaku?” goda Bona.

“Eh? Tidak—” potong Hyungwon cepat. “Aku setuju, tapi apa kau yakin bisa membuatku jatuh cinta padamu? Kau bahkan bukan tipeku.” Jawab Hyungwon, jujur.

“Memangnya kenapa? Ibuku juga bukan tipe ideal Ayahku, tapi lihat? Mereka menikah dan punya anak perempuan yang mengagumkan sepertiku!” Bona meletakkan kedua telapak tangan di bawah dagunya membentuk flower pose, membuat Hyungwon terkekeh.

“Oh, Oppa! Kau tertawa!” Bona menunjuk wajah Hyungwon.

“Kau benar-benar aneh.”

“Permainan baru saja dimulai dan kau sudah tertawa karenaku!”

Hyungwon menggelengkan kepalanya. “Sudahlah, pulang sana. Langit kelihatan mendung.”

“Bukankah kita akan makan tteokpokki?” tanya Bona dengan mata berbinar.

“Siapa bilang aku mengajakmu?”

Kini Bona mengerucutkan bibirnya kesal.

“Sebelum hujan, lebih baik kau pulang saja sana.” Hyungwon sudah bersiap pergi dengan kedua tangan penuh dengan kanvas dan alat lukis lainnya.

“Bukankah Oppa seharusnya mengantarku pulang?”

“Tidak mungkin, rumah kita berlawanan arah.”

Oppa..” rengek Bona.

“Hati-hati di jalan.” Tanpa menatap Bona lagi, Hyungwon melengang pergi.

“Tch, dia sulit sekali ditebak. Baru saja dia tertawa-tawa karenaku, lalu kemudian meninggalkanku sendirian tanpa menoleh.” Gumam Bona pada diri sendiri sambil melihat punggung Hyungwon yang perlahan menjauh pergi.

Bona menengadah, melihat awan kehitaman yang menggantung di atas langit. “Masih banyak laki-laki yang bisa memperlakukanku lebih baik, tapi kenapa aku masih menyukainya? Love is so stupid..” Ia menghela nafas, lalu melangkahkan kakinya meninggalkan tempat itu.

.

.

.

.

.

…to be continued-

***

Hello! Here is the third part!

I am sorry for the late-late-late update T_____T

Beberapa bulan kemarin banyak sekali urusan yang harus diselesaikan dan sempat kena writer block juga 8′)

Well, nggak berharap banyak sih. Semoga aja aku bisa menyelesaikan fic ini yah, meskipun harus dalam kurun waktu yang tidak sebentar X’D

Advertisements

7 responses to “[CHAPTERED] I Will Reach You – PAGE.3

  1. Pingback: [CHAPTERED] I WILL REACH YOU – PAGE.7 | WJSN Fanfiction Indonesia·

  2. Pingback: [CHAPTERED] I WILL REACH YOU – PAGE.6 | WJSN Fanfiction Indonesia·

  3. Pingback: [CHAPTERED] I WILL REACH YOU – PAGE.5 | WJSN Fanfiction Indonesia·

  4. Ya ampuunn, aku kira gak ada kelanjutannya ;-;;
    Seriously, seneng banget ff ini dilanjutin!!!!

    Gemes ih sama hyungwon, bona ∩(︶▽︶)∩ visual couple ♡

    Like

  5. Pingback: [Chaptered] I Will Reach You – Page.4 | WJSN Fanfiction Indonesia·

Spacer, leave a reply pls^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s